October 2011
89 posts
Aku melakukan sesuatu yang lebih dari sebelumnya, sesuatu yang muncul bukan hanya karena rasa bersalah, melainkan rasa takut kehilangan. Penyesalan yang membawa tubuhku bergerak dan memperbaharui pikiranku dengan lebih baik, namun tetap terbuka oleh segala macam kemungkinan buruk.
Semesta mengenalku sebagai sosok yang pendiam. Dunia yang kadangkala terabaikan oleh karena kalah dari dunia yang lebih besar, yang lebih dalam, yang ada di dalam kepalaku sendiri.
Lihat mataku!
Orang yang buta huruf sekalipun bisa membaca bahwa aku tidak bercanda sama sekali.
Ada cahaya yang keluar dari mataku, itu berasal dari kerinduanku akan dekapmu.
Hangat, api kecil yang menyala di dalam hati,
jiwa, membuat seisi pikiran tampak begitu indah.
Kau terlihat, selalu, bahkan di saat aku memejamkan mata.
Sunyi, pejam, indah yang hampa.
Sesungguhnya kau akan tetap kurasa ada, meski pada kenyataannya inilah hidup yang tanpa hadirmu lagi.
I wanna use my hands to handle you, but why my heart is in your hand?
*cengar-cengir semalam suntuk*
Cinta jangan diukur-ukur, Sayang.. :)
Bukankah suatu kehormatan jika berada di tengah-tengah penolakan?
Kira-kira seperti ini.. “Jangan repot-repot, biar aku sendiri aja.”
Ada yang bilang begitu. Tapi alhamdulillah belum ada yang bilang playgroup.
Aku terharu. *kipas-kipas mata pake tangan*