“Kebanyakan aku merasa mengenal seseorang dengan lebih dalam, itu setelah kusaksikan kemarahannya.”
—
April 2011
289 posts
“Lo boleh jadi apapun, asal tetap kita sahabat.”
—
“Aku rindu membuka mata dan menjumpai kau yang masih tidur.”
—
Gosip itu seperti merebus nama seseorang dengan bantuan telinga orang lain.
“Entah, seakan mengharapkanmu bagai melantur. Ini segambar dengan keoptimisan bahwasanya suatu hari ada Vespa yang mampu jalan di atas awan.”
—
Logikanya, mungkin, kepergianku melatih daya ingatmu.
“Kepada siapa harus kuserahkan kamu, sementara tidak aku lagi yang memiliki?”
—
“Keluar asap yang mengepul dari kata-kata yang kau katakan. Telingaku mendengar, tetapi mata berlinang air.”
—
Akukah sosok yang masih anyar dalam benakmu, yang kau tanya-tanyakan kepada setiap cermin yang kau jumpai?
“Ada roh di dalam kata, merasuk sudah ke dalam hati. 3 kata dari mulutku, itu masih dan terpercaya.”
—
- Di suatu kelas pelajaran IPA, Pak Guru iseng bertanya kepada muridnya.
- "Surti, kalo sudah besar kamu mau jadi apa?"
- "Kalo sudah besar, kata mama harus pake BH."
- "Neng, ketek ketek apa yang abang butuh?"
- "Hahaha.. Abang ada-ada ajah. Ketek apaan emangnya, Bang?"
- "Ketekmuan, yuk!"
- "Bang, Metromini-nya penuh. Kita pasti nggak dapet tempat duduk. Taksi aja, deh!"
- "Neng, biar kata kita bediri di Metromini, yang penting kita bakal duduk bedua di pelaminan."
- "Neng, monyet monyet apa yang paling berat?"
- "Kingkong!"
- "Salah!"
- "Nyerah deh. Apaan emang, Bang?"
- "Monyetakan cintaku padamu."
- "Neng, kucing kucing apa yang alhamdulillah banget?"
- "E buset! Kucing apaan emang, Bang?"
- "Kucingta kamu apa adanya."
- Suatu hari di zaman Asmara Telepon Rumah masih digandrungi kawula muda,
- "Malam, Tante, Romi ada?"
- "Romi lagi belajar tuh.. Nanti kalo Romi udah lulus kuliah, telepon lagi ya!"
“Ada gambar yang dianggap jelek, tetapi ada komentar yang lebih jelek dari gambar itu. Meski susah berkata bagus, jangan mudah mempermalukan!”
—
Kau tahu dengan siapa kamu berjalan, tetapi jangan kaki lupa siapa dirinya sendiri!
“Kalo cakep-cakep tapi nggak bisa jaga diri, mending kamu jaga lilin, mau?”
—
Sesingkat Kepulangan Sore
Senja di sini mengingatkanku pada merah pipi di kala kita malu-malu yang manis, itu kita semasa dulu, pada mula dan saling kenal. Namun pelan langit berjalan, tampak sembab surya temaram, mungkin haru melihat kita. Di bawahnya jarak terbentang, butuh waktu untuk menggenggam.
Kini aku semacam kepingin menikmati kepulangan surya, tapi apa akan sesesak kepergianmu? Biar malam yang bercerita.