LAFESYA
Tidak banyak yang aku lakukan selain menahan mata untuk mengedip. Ini masih beruntung bila bola mataku tidak keluar dan menggelinding ke bawah, lalu terinjak kaki para penumpang. Aku terpukau, dan ini pukau yang tidak karu-karuan. Mengapa ia begitu rupawan untuk kunikmati dengan melihatnya sambil berdesak-desakan?
Mungkin sekitar 27 jengkal kaki cicak yang menjadi jarak antara mataku dan kelingking kaki kirinya. Ini anugerah termudah untuk kuterima dengan percaya diri. Aku tidak mengenalnya, ia tidak mengenalku. Tetapi aku memandanginya di saat ia memandangi buku. Tak apa. Aku tak cukup siap untuk dibalas tatap yang akan melipat-lipat jantungku menjadi kecil. Lebih baik aku di sini, tetap berdiri dan sempit-sempitan sambil tersenyum.
Seorang bapak yang mungkin lebih tua 2 tahun dari ibuku, ia berdiri di kiriku. Seorang pemuda yang mungkin mahasiswa yang berkutat dengan angka, ia berdiri tepat di sebelah kananku. Seorang ibu yang mengenakan seragam dinas, ia berdiri di belakang bapak tadi, dan seorang gadis yang mungkin malaikat, ia berdiri sambil membaca buku di belakang mahasiswa berkacamata itu. Aku menjadi detail memperhatikan sekitar. Bahkan bau batuk seorang kakek di belakangku, aku menjadi iseng menebak-nebak sisa hidupnya.
Bus TransJakarta yang aku tumpangi saat ini, memang penuh bukan main. Ini terbukti ketika 80% penumpang seakan serempak memasang wajah cemberut. Sisa 20% adalah mereka yang tertidur, mereka yang bawa iPod, anak-anak SMA yang cengengesan, gadis cantik yang membaca buku dan aku yang memandanginya.




14